Skip to content

ARASY

May 19, 2013

Ahlus Sunnah Menetapkan Allah Istiwa’ di Atas Arsy (Tinggi di Atas Arsy)

 

A. Istiwa’nya Allah Di Atas Arsy

Termasuk iman kepada Allah adalah iman kepada apa yang diturunkan Allah Azza wa Jalla dalam Al-Qur-an yang telah diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta yang telah disepakati oleh generasi pertama dari ummat ini (para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum) bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas semua langit,[1] bersemayam di atas ‘Arsy,[2] Mahatinggi di atas segala makhluk-Nya, Allah tetap bersama mereka dimana saja mereka berada, yaitu Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.daun yang basah, semut hitam di atas batu hitam di kegelapan malam, bahkan apa yang berada dalam benak hati kita, Allah mengetahui segalanya.

Firman Allah tentang istiwa’:

ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ

“…Lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy…” [Al-A’raaf: 54]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “…Pandangan yang kami ikuti berkenaan dengan masalah ini adalah pandangan Salafush Shalih seperti Imam Malik, al-Auza’i, ats-Tsauri, al-Laits bin Sa’ad, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan Imam-Imam lainnya sejak dahulu hingga sekarang, yaitu mem-biarkannya seperti apa adanya, tanpa takyif (mempersoalkan kaifiyahnya/hakikatnya), tanpa tasybih (penyerupaan) dan tanpa ta’thil (penolakan). Dan setiap makna zhahir yang terlintas pada benak orang yang menganut faham musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluk), maka makna tersebut sangat jauh dari Allah, karena tidak ada sesuatu pun dari ciptaan Allah yang menyerupai-Nya. Seperti yang difirmankan-Nya.

لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌۭ

“…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya… “[Asy-Syuuraa: 11]

Tetapi persoalannya adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh para Imam, di antaranya adalah Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i ( guru Imam al-Bukhari ), ia mengatakan: ‘Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia kafir. Dan barangsiapa yang mengingkari sifat yang telah Allah berikan untuk Diri-Nya sendiri, berarti ia juga telah kafir.’ Tidaklah apa-apa yang telah disifatkan Allah bagi Diri-Nya sendiri dan oleh Rasul-Nya merupakan suatu bentuk penyerupaan. Barangsiapa yang menetapkan bagi Allah Azza wa Jalla setiap apa yang disebutkan pada ayat-ayat Al-Qur-an yang jelas dan hadits-hadits yang shahih, dengan pengertian yang sesuai dengan kebesaran Allah, serta menafikan segala kekurangan dari Diri-Nya, berarti ia telah menempuh jalan hidayah (petunjuk).”[3]

Firman Allah al-Aziiz:

ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ

“(Yaitu) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [Thaahaa: 5]

Ketika Imam Malik (wafat th. 179 H) rahimahullah ditanya tentang istiwa’ Allah, maka beliau menjawab:

“Istiwa’-nya Allah ma’lum (sudah diketahui maknanya), dan kaifiyatnya tidak dapat dicapai nalar (tidak diketahui), dan beriman kepadanya wajib, bertanya tentang hal tersebut adalah perkara bid’ah, dan aku tidak melihatmu kecuali dalam kesesatan.”

Kemudian Imam Malik rahimahullah menyuruh orang tersebut pergi dari majelisnya. [4]

Imam Abu Hanifah (hidup pada tahun 80-150 H) rahimahullah berkata:

“Barangsiapa yang mengingkari bahwa Allah berada di atas langit, maka ia telah kafir.”[5]

B. Makna Dekatnya Allah (Pada Surat Qaaf : 16 Dan Al-Waqi’ah : 85)

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ ٱلْوَرِيدِ

“…Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” [Qaff : 16]

2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَٰكِن لَّا تُبْصِرُونَ

“Dan Kami lebih dekat kepadanya dari kamu.” [Al-Waqi’ah : 85]

Ahlul takwil melancarkan sybuhat berupa tuduhan kepada Ahlus Sunnah bahwa merekapun telah melakukan takwil terhadap dua ayat di atas, yaitu ketika menafsirkan kata-kata “lebih dekat” yang dimaknai “lebih dekatnya malaikat”.

Jawaban terhadap syubhat itu ialah : “Bahwa penafsiran kata-kata “ Kami lebih dekat” pada dua ayat diatas dengan “dekatnya malaikat” bukanlah takwil, bukan menyelewengkan perkataan dari makna dhahirnya. Dan hal ini akan jelas bagi orang yang merenungkannya.

Penjelasannya sebagai berikut.

1. Tentang Ayat Pertama : Sesungguhnya kata-kata “Kami lebih dekat” pada ayat itu terkait dengan sesuatu yang membuktikan bahwa maksudnya adalah “malaikat yang lebih dekat” karena ayat tersebut berlanjut.
Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya. Seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir. [Qaf : 16-18]

Maka firman Allah : (Yaitu ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya), terdapat dalil bahwa yang dimaksud “lebih dekat” adalah dekatnya dua orang Malaikat yang mencatat amal perbuatannya.

2. Tentang Ayat Kedua : Kata-kata “lebih dekat” pada ayat ini berkaitan dengan keadaan seseorang yang tengah menghadapi sakaratul maut. Ketika seorang sedang menghadapi sakaratul maut, maka yang datang untuk mencabut nyawanya adalah malaikat, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat (utusan) Kami, dan malaikat-malaikat itu tidak melalaikan kewajibannya.” [Al-An’am : 61]

3. dalam ayat tersebut Allah menggunakan kata “Nahnu” ( kami ), dimana itu berarti bahwa Allah menghendaki sesuatu namun harus melibatkan sesuatu tidak Allah sendiri yang mengerjakannya, contoh dalam firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
” dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu.” ( Adz-Dzariyat : 56 )
dalam ayat diatas Allah menggunakan kata ” aku ” dalam menciptakan jin dan manusia karena penciptaan jin dan manusia Allah sendiri yang menciptakan tanpa adanya perantara dan campur tangan makhluq, berbeda dengan Ayat di bawah ini:
وَأَرْسَلْنَا ٱلسَّمَآءَ عَلَيْهِم مِّدْرَارًۭا
“….. dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka….” ( Al-An’am : 6 )
Ayat di atas, Allah menggunakan “Kami” untuk menurunkan hujan, karena kita tahu bahwa Allah yang menurunkan hujan namun ada proses yang melibatkan makhluk untuk turunnya hujan seperti mala’ikat mika’il yang menurunkannya dengan kehendak Allah, bukan Allah sendiri yang menurunkan hujan. dan pada surat Qaf ayat 16 itu, Allah menggunakan kata Nahnu ( Kami ) maka tidak mungkin dzat Allah sendiri yang berdekatan dengan kita.

Kemudian pada ayat Al-Waqi’ah : 85, lengkapnya berbunyi.
Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat. [Al-Waqi’ah : 85]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, (kamu tidak melihat) pada ayat itu menyatakan dalil sangat jelas bahwa yang tidak kamu (manusia-pent) lihat adalah para malaikat. Sebab ayat diatas menunjukkan bahwa pencabut nyawa berada sangat dekat dengan manusia, dalam arti ia berada di tempat manusia itu berada, namun manusia tidak dapat melihatnya.

Dengan demikian, yang dekat dan berada di tempat manusia (yang sedang sakaratul maut untuk dicabut nyawanya) tidak lain adalah malaikat. Sebab adalah mustahil jika Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang berada di situ. Maka jelaslah bahwa yang dimaksud “lebih dekat” adalah dekatnya Malaikat.

Tinggal sekarang permasalahannya, yaitu kalau yang dimaksud adalah dekatnya malaikat, mengapa kata-kata “dekat” kemudian disandarkan kepada Allah, yakni : “Kami lebih dekat kepadanya”. Adakah contoh ungkapan lain dalam Al-Qur’an yang menandaskan bahwa sesuatu disandarkan kepada Allah, tetapi maksudnya adalah malaikat?

Jawaban Pertanyaan Pertama.
Karena malaikat itu merupakan tentara dan utusan Allah. Dan dekatnya mereka kepada manusia hanyalah karena perintah Allah. Sehingga ketika mereka dekat dengan manusia, maka diakuinya kedekatan itu sebagai kedekatan Allah kepada manusia.

Jawaban Pertanyaan Kedua.
Memang ada contoh ungkapan lain dalam Al-Qur’an yang menandaskan bahwa sesuatu disandarkan kepada Allah tetapi maksudnya adalah malaikat. Misalnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu”. [Al-Qiyamah : 18]

Disini Allah mengatakan : “Bila Kami (Allah) telah selesai membacakannya”. Sedangkan yang dimaksud adalah : “Bila malaikat Jibril telah selesai membacakan Al-Qur’an kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Sekalipun diakuinya bacaan itu sebagai bacaan yang disandarkan kepada Allah dengan firmanNya : Apabila Kami (Allah) telah selesai membacakannya” . Mengapa ? Sebab ketika Jibril membacakan Al-Qur’an kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hanyalah semata-mata karena perintah Allah. Dengan demikian, boleh saja jika kemudian Allah mengklaim bahwa bacaan Jibril tersebut sebagai bacaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Begitu pula misal yang terdapat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Maka tatkala rasa takut telah hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, diapun bersoal-jawab dengan Kami tentang kaum Luth.” [Hud : 74]

Kata-kata : (bersoal jawab dengan Kami/Allah) maksudnya adalah bersoal jawab dengan para malaikat Allah Subhanahu wa Ta’ala ( yakni jibril dan mika’il ) yang diutus untuk menemui Ibrahim

Kesimpulan:
Dua ayat dalam surat Qaaf 16 dan surat Al-Waqi’ah : 85 di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa “Kami (Allah) lebih dekat”, maksudnya adalah “malaikat lebih dekat” karena dekatnya malaikat merupakan perintah Allah. Dan penafsiran ini bukan takwil terhadap ayat-ayat sifat dan bukan pula pengalihan makna dari makna dzahirnya, berdasarkan penjelasan yang sudah dikemukakan di muka. Alhamdulillah.

Sementara itu syubhat lain yang dituduhkan oleh ahlu takwil bahwa Ahlus Sunnah juga melakukan takwil, adalah berkenaan dengan firman Allah tentang perahunya Nabi Nuh Alaihissallam pada surat al-Qamar.

“Yang (perahu itu) berlayar dengan pengawasan mata Kami.” [Al-Qamar : 14]

Dan berkenaan dengan firman Allah kepada Musa dalam surat Thaha.

“Dan supaya engkau (Musa) diasuh dibawah pengawasan mata-Ku. ” [Thaha : 39]

Ahlu takwil menuduh bahwa Ahlus Sunnah pun melakukan takwil ketika menafsirkan kedua ayat tersebut di atas. Tuduhan ahlu takwil bahwa Ahlus Sunnah melakukan takwil pada ayat diatas, jelas tidak benar.

Keterangannya adalah sebagai berikut : Bahwa dua ayat diatas diartikan dibawah/dengan pengawasan mata Allah adalah pengertian/penafsiran yang benar yang sesuai dengan dhahirnya ayat dan sesuai dengan hakikatnya.

Tetapi yang perlu dijelaskan ialah tentang maksud dhahir dan hakikat ayat di atas.

Apakah yang dimaksud dengan dhahir dan hakikat ayat di atas lantas dikatakan bahwa perahunya Nabi Nuh berlayar di dalam mata Allah dan bahwa Musa diasuh diletakkan di atas mata Allah? (sebab pada kasus perahu Nabi Nuh, ayatnya berbunyi بِأَعْيُنِنَا bi’a’yunina dengan ba’, sedangkan pada kasus Nabi Musa, ayatnya berbunyi : ‘ala ‘ainiy عَلَىٰ عَيْنِي dengan ‘ala عَلَىٰ.

Jelas jika itu yang dimaksudkan dengan dhahir dan hakikat ayat, maka tidak ragu lagi bahwa pemahaman itu adalah pemahaman yang batil, berdasarkan beberapa alasan berikut.

1 Bahwa pemahaman tentang dhahirnya ayat seperti pemahaman di atas adalah pemahaman yang tidak sesuai dengan tuntutan pembicaraan bahasa Arab. Padahal Al-Qur’an turun dengan berbahasa Arab.

Allah berfirman.
“Sesungguhnya Kami menurukannya sebagai Al-Qur’an (bacaan) yang berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” [Yusuf : 2]

“Al-Qur’an itu dibawa turun oleh Ar-Ruh al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.” [Asy-Syu’araa : 192-195]

Ketika ada seorang berbicara dalam bahasa Arab : بِأَعْينِ (bi’aini, dengan huruf ba’), tidak seorangpun yang memahami bahwa Fulan berjalan di dalam matanya. Tetapi yang dipahaminya ialah Fulan berjalan di bawah pengawasan (mata)nya. Begitu pula ketika ada seseorang yang berbicara dalam bahasa Arab : عَلَىٰ عَيْنِىٓ (‘ala ‘aini, dengan ‘ala), juga tidak ada seorangpun yang memahami bahwa Fulan telah lulus dalam keadaan ia naik di atas mata orang yang berbicara. Tetapi yang dipahaminya ialah bahwa Fulan telah lulus si bawah pengawasan (mata)nya. Jika ada orang yang nekad bahwa pemahamannya terhadap dhahir suatu perkataan adalah seperti pemahaman di atas, maka tentu akan ditertawakan oleh orang-orang bodoh sekalipun. Apalagi oleh orang-orang yang berakal.

2. Bahwa pemahaman terhadap dhahirnya ayat dengan pemahaman seperti di atas, adalah sangat mustahil. Tidak mungkin orang yang betul-betul memahami Allah dan mengerti ke Maha Luhuran Allah, mempunyai pemahaman demikian, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam di atas Arsy, berada tinggi di atas segenap makhluk-Nya. Tidak ada sesuatupun di antara makhluk-Nya yang menempel pada Allah dan tidak pula Allah menempati sesuatupun di antara makhluk-Nya. Maha Suci Allah dari semuanya itu.

Nah, jika pemahaman terhadap dhahirnya ayat tidak demikian, maka menjadi jelaslah bahwa pemahaman terhadap dhahirnya ayat adalah bahwa perahunya Nabi Nuh berlayar, sedangkan mata Allah senantiasa mengawasi dan memeliharanya.

Begitu pula Nabi Musa. Beliau diasuh sedangkan mata Allah selalu melihat, mengawasi dan memeliharanya.

Dengan demikian pemahaman dhahir terhadap nash di atas seperti pemahaman yang pertama jelas batil. Dan pemahaman yang benar adalah pemahaman yang kedua. Dan itu tidak berarti mengalihkan perkataan dari makna yang sesuai dengan dhahirnya. Maka terbantahlah sudah syubhat ahlu bid’ah yang menuduh Ahlus Sunnah juga telah melakukan takwil. Syubhat yang dilancarkan dalam rangka membenarkan tindakan batil mereka.

C. Hukum Ucapan Sesungguhnya Allah Berada Di Setiap Tempat (Di Mana-Mana)

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya teringat sebuah kisah di salah satu stasiun radio saat salah seorang anak bertanya kepada ayahnya tentang Allah, lalu sang ayah menjawab bahwa Allah berada di setiap tempat (di mana-mana). Pertanyaan yang ingin saya ajkan, “Bagaimana hukum syari’at terhadap jawaban yang seperti ini?

Jawaban
Ini adlah jawaban yang batil dan termasuk ucapan ahli bid’ah seperti Jahmiyyah, Mu’tazilah dan roang-orang yang sejalan dengan madzhab mereka..

Jawaban yang tepat dan sesuai dengan manhaj Ahlus Sunah wal Jama’ah adalah bahwa Allah Ta’ala berada di langit, bersemayam di atas Arsy, berada tinggi di atas seluruh makhluk-Nya dan ilmu-Nya meliputi semua tempat sebagaimana yang di dukung oleh ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits Nabi dan ijma’ ulama Salaf. Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Artinya : Sesungguhnya Rabb, kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa , lalu Dia bersemayam di atas Arsy” [Al-A’raf : 54]

Hal ini ditegaskan oleh Allah dengan mengulang-ulangnya dalam enam ayat yang lain dalam kitab-Nya.

Makna istiwa menurut Ahlus Sunnah adalah tinggi dan naik di atas Arsy sesuai dengan keagungan Allah Ta’ala, tidak ada yang mengetahui caranya selain-Nya. Hal ini sebagaimana ucapan Imam Malik rahimahullah ketika ditanya tentang hal ini.
“(Yang namanya) Istiwa itu sudah dimaklumi ( diketahui yakni dalam bahasa arab) sedangkan caranya tidak diketahui, beriman dengannya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah”.

Yang dimaksud oleh beliau adalah bertanya tentang bagaimana caranya. Ucapan semakna berasal pula dari syaikh beliau, Rabi’ah bin Abdurrahman. Demikian juga sebagaimana yang diriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha. Ucapan semacam ini adalah pendapat seluruh Ahlus Sunnah, para sahabat dan para tokoh ulama Islam setelah mereka.
Allah telah menginformasikan dalam ayat-ayat yang lain bahwa Dia berada di langit dan di ketinggian, seperti dalam firman-firman-Nya.

“Artinya : Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” [Ghafir / Al- mu’min : 12]

“Artinya : Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih di naikkan-Nya” [Fathir : 10]

“Artinya : Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” [Al-Baqarah : 255]

“Artinya : Apakah kamu merasa terhadap Allah yang di langit bahwa Dia menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan megirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku” [Al-Mulk : 16-17]

Allah telah menjelaskan secara gamblang dalam banyak ayat di dalam kitab-Nya yang mulia ( Al-Qur’an ) bahwa Dia berada di langit, di ketinggian dan hal ini selaras dengan inidikasi ayat-ayat seputar istiwa’.
Dengan demikian, diketahui bahwa perkataan ahli bid’ah bahwa Allah Ta’ala berada di setiap tempat (di mana-mana) tidak lain adalah sebatil-batil perkataan. Ini pada hakikatnya adalah madzhab Al-Hulul (semacam reinkarnasi,-pent) yang diada-adakan dan sesat bahkan merupakan kekufuran dan pendustaan terhadap Allah Ta’ala serta pendustaan terhadap Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana secara shahih bersumber dari beliau menyatakan bahwa Rabb-nya berada di langit, seperti sabda beliau.
“Artinya : Tidakkah kalian percaya kepadaku padahal aku ini adalah amin (orang kepercayaan) Dzat Yang berada di langit? [6] 
Demikian pula yang terdapat di dalam hadits-hadits tentang Isra dan Mi’raj serta selainnya.

D. Hukum Mengatakan Bahwa Allah Berada Di Setiap Tempat

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Tentang ucapan sebagian orang bila dtanya, Di mana Allah? Lalu mereka menjawab : Allah berada di setiap tempat ( di mana-mana) atau –hanya menyebutkan- Allah itu ada. Apakah jawaban seperti ini dinyatakan benar secara mutlaq (tanpa embel-embel)?

Jawaban
Jawaban semacam itu adalah jawaban yang batil baik secara mutlaq ataupun dengan embel-embel. Bila anda ditanya, Di mana Allah?, maka jawablah : Allah berada di langit, sebagaimana jawaban yang diberikan oleh seorang wanita ketika ditanya oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti itu, lantas dia menjawab, Dia berada di langit.

Sedangkan orang yang hanya mengatakan, Allah itu ada tanpa tempat, ini jawaban menghindar dan mengelak (berkelit lidah) semata.

Adapun terhadap orang yang mengatakan, Sesungguhnya Allah berada di setiap tempat (di mana-mana), bila yang di maksud dzat-Nya, maka ini adalah kekufuran sebab merupakan bentuk pendustaan terhadap nash-nash yang menekankan hal itu. Justru dalil-dalil sam’iy (Al-Qur’an dan hadits), logika serta fitrah menyatakan bahwa Allah Maha Tinggi di atas segala sesuatu dan di atas lelangit, beristiwa di atas Arasy-Nya. [7]

E. AQIDAH AHLUS SUNNAH SEPUTAR ARSY’

PENGERTIAN ARSY
Arsy merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab yang pada asalnya mengandung makna ketinggian suatu bangunan, akan tetapi ia dipakai bangsa Arab untuk menunjukkan beberapa makna, diantaranya:

1. Singgasana Raja.
Berkata Al-Khalil : Al arsy adalah singgasana untuk raja [8]
Berkata Al Azhaary: dan Al Arsy dalam bahasa Arab bermakna singgasana raja , yang menunujukkan hal itu adalah singgasana Raja Saba’ yang telah dinamai Allah dengan Al Arsy, dalam firman Nya:
“Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar”. [An-Naml/ 27:23][9]

2. Atap Rumah.
Berkata Al-Khalil : Arsyul Bait yaitu atapnya. [10]
Berkata Az-Zubaidy: Dan Al Arsy dari rumah adalah atapnya sebagaimana dalam hadits:

أَوْكَالْقَنْدِيْلِ اْلمُعَلَّقِ بِالْعَرْشِ

“atau seperti kendil yang tergantung di Arsy, (yaitu atap).”

Dan dalam hadits lain.
Aku telah mendengar bacaan Rasulullah dari atas arsy yaitu atap rumahku.

Dan dengan makna ini juga ditafsirkan firman Allah:
Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang-orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. [Al-Baqarah/2: 259] [11]

3. Tiang Dari Sesuatu
Berkata Az-Zubaidy : Dan Al-Arsy bermakna tiang dari sesuatu. Ini pendapat Az-Zujaaj dan Al-Kisaa’i. [12]

4. Kerajaan.
Berkata Al-Azhaary : Dan Al-Arsy adalah kerajaan, dikatakan: Tsulla Arsyuhu bermakna hilang kerajaan dan keperkasaannya.[13]

5. Bagian Dari Punggung Kaki
berkata Al-Khalil : Al-Arsy di kaki adalah bagian antara al-himaar dengan jari-jari kaki di bagian atas (punggung) telapak kaki, dan al-himaar adalah tulang yang menonjol di bagian punggung telapak kaki, dan jamaknya Iraasyah dan A’rasy. [14]

Dan berkata Ibnul A’rabi : Punggung telapak kaki dinanakan Arsy dan perut telapak kaki dinamakan Alakhmash. [15]

Inilah sebagian makna Al-Arsy dalam bahasa Arab, akan tetapi makna-makna tersebut akan berubah-ubah sesuai dengan yang disandarinya. Sedangkan yang dimaksud dengan Arsy Allah adalah singgasana, sesuai dengan petunjuk yang telah ditunjukkan oleh nash-nash Al-Quran dan As-Sunnah.

Adapun syubhat yang dilontarkan orang-orang Jahmiyah bahwa makna Al-Arsy dalam firman Allah :

“(Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy. “[Thoha/20:5]

Mengandung kemungkinan beberapa makna, sehingga tidak diketahui makna apa yang ditunjukkan ayat ini dari makna-makna tersebut.

Hal ini telah dijawab oleh Ibnu Qayim dengan mengatakan : Ini merupakan perancuan terhadap orang-orang yang bodoh dan merupakan kedustaan yang nyata, karena Arsy Allah yang Dia bersemayam diatasnya tidak memiliki makna kecuali satu makna saja, walaupun Arsy secara umum memiliki beberapa makna. Akan tetapi huruf lam disini adalah untuk menunjukkan sesuatu yang telah diketahui sebelumnya (Al ‘Ahd), maka hal itu membuat makna Arsy menjadi tertentu saja yaitu Arsy Arrobb yang bermakna singgasana kerajaannya yang telah disepakati dan diakui para rasul dan para umat kecuali orang yang menentang para Rasul….[16]

APAKAH ARSY ITU?
Pengertian Al Arsy menurut Ahlu Sunnah wal Jamaah (manhaj Salaf), adalah makhluq Allah yang tertinggi berupa singgasana seperti kubah yang memiliki tiang-tiang yang dipikul dan dikelilingi oleh para malaikat.

Berkata Al-Baihaaqy : dan pendapat para ahli tafsir tentang Al-Arsy adalah singgasana, dan dia adalah jasad yang berbentuk yang telah diciptakan Allah dan Dia perintahkan para malaikat untuk memikilnya dan beribadah dengan mengagungkan dan berthawaf padanya, sebagimana Dia menciptakan satu rumah dibumi dan memerintahkan bani Adam untuk berthawaf padanya dan menghadapkan kepadanya ketika sholat. Dan pendapat-pendapat mereka itu ada dalil penunjukkannya yang jelas dalam ayat-ayat dan hadits-hadits serta atsar-atsar. [17]

Berkata Ibnu Katsir : Dia adalah singgasana yang memiliki tiang-tiang yang dipikul oleh para malaikat dan dia seperti kubah yang menutupi alam ini dan dia adalah atapnya para makhluq. [18]

Dan berkata Adz-Dzahabiy – setelah menyebutkan kebahagiaan ahli syurga- : Apa yang disangka tentang Al-Arsy yang agung yang telah dijadikan Allah untuk diriNya dalam ketinggian, luas, tiang-tiang, bentuk, pemikulnya dan melaikat-malaikat berlingkar disekeliling ‘Arsy serta kebagusan dan keindahannya. Sungguh telah diriwayatkan, dia dibuat dari yaquut (jenis permata yang sangat indah ) yang berwarna merah. [19]. Berdalil dengan dalil-dalil sebagai berikut:

1. Dalil Al-Arsy adalah makhluq Allah yang telah Allah ciptakan:
Dari Al-Quran
(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Rabb kamu; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. [Al-An’am/6:102]

Maka setiap sesuatu di alam ini adalah makhluq yang Allah ciptakan dan adakan, dan Al Arsy adalah salah satu makhluq dari makhluq-makhluq Allah.

Dan firman Allah :

Allah, tiada Ilah Yang disembah kecuali Dia, Rabb Yang mempunyai ‘Arsy yang besar. [An-Naml/27:26]

Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung. [At-Taubah/9:129]

Berkata Al Haafidz Ibnu Hajar, firman Allah :

Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung”. [At-Taubah/9:129]

Memberikan isyarat penunjukkan bahwa Al-Arsy dimiliki, dan setiap yang dimiliki adalah makhluq… dan dalam penetapan tiang-tiang Al-Arsy ada penunjukan yang tegas bahwa Arsy adalah sesuatu yang tersusun dari beberapa bagian dan anggota tubuh, dan sesuatu yang tersusun demikian adalah makhluq yang diciptakan.[20]

Dari As-Sunnah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Raziin Al uqailiy, beliau berkata:
“Wahai Rasulullah dimana dahulu Rabb kita berada sebelum menciptakan makhluqNya ( yakni sebelum alam semesta diciptakan )? Beliau menjawab: Dia berada di ‘amaa, tidak ada diatas dan bawahnya udara, kemudian dia menciptakan Arsy-Nya diatas air.” [21]

Ini adalah dalil-dalil yang digunakan oleh para ulama salaf dalam menetapkan Arsy sebagai makhluq dari makhluq Allah.

2. Dalil Al-Arsy adalah makhluq Allah yang tertinggi dan berbentuk kubah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika kalian meminta, mintalah Al-Firdaus, karena dia adalah tengah-tengah syurga dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai syurga.” [22]

Berkata Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah bin Abi Zamaniin dalam kitabnya Ushulus Sunnah : Dan dari pendapat Ahlus Sunnah adalah Allah telah menciptakan Al-Arsy dan mengkhususkannya dengan berada diatas dan ketinggian diatas semua makhluqNya…[23]

Dan berkata Ibnu Taimiyah : Adapun Al-Arsy maka dia berupa kubah sebagaimana diriwayatkan dalam As-Sunan karya Abu Dawud dari jalan periwayatan Jubair bin Muth’im, dia berkata : Telah datang menemui Rasulullah seorang A’rab dan berkata : Wahai Rasululloh jiwa-jiwa telah susah dan keluarga telah kelaparan- dan beliau menyebut hadits- sampai berkata Rasulullah :
Sesungguhnya Allah diatas ArsyNya dan ArsyNya diatas langit-langit dan bumi, seperti begini dan memberikan isyarat dengan jari-jemarinya seperti kubah. [24]

Dan tentang ketinggiannya Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Jika kalian meminta, mintalah Al-Firdaus, karena dia syurga yang paling utama dan yang paling tinggi dan diatasnya adalah Arsy Allah, dan darinya terpancar sungai-sungai syurga.[25]

Dan jelaslah dengan hadits-hadits ini bahwa Al-Arsy adalah makhluq yang paling tinggi dan dia seperti kubah…[26]

3. Dalil Al-Arsy Adalah Singgasana.
Berkata Ibnu Qutaibah : Mereka mencari-cari makna lain untuk Arsy selain singgasana, sedangkan Ulama bahasa (Arab) tidak mengenal makna untuk Arsy kecuali singgasana dan apa yang digelar dari atap-atap dan yang serupanya.[27]

Berkata Ibnu Katsier : Al-Arsy dalam bahasa Arab artinya dari singgasana untuk seorang raja, sebagaimana firman Allah :

“Adalah dia (ratu Bilqis) mempunyai singgasana yang besar” [An-Naml : 23]

Dan bukan galaksi.

Demikian juga bangsa Arab tidak mengenal hal itu sedangkan Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab, maka dia adalah singgasana yang memiliki tiang-tiang…[28]

4. Dalil Bahwa Arsy Adalah Singgasana Yang Memiliki Tiang-Tiang
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya manusia pingsan pada hari kiamat, lalu aku adalah orang yang pertama sadar, seketika itu aku mendapatkan Musa sedang memegang sebuah tiang dari tiang-tiang Al-Arsy, maka aku tidak tahu apakah dia telah sadar sebelumku ataukah dia dibebaskan (dari pingsan tersebut) karena telah pingsan di Bukit Thur”. [29]

Berkata Ibnu Abil Izz : Telah tetap dalam syariat bahwa Al-Arsy memiliki tiang-tiang.[30]

5. Dalil Bahwa Arsy Dipikul oleh malaikat Dan Para Malaikat Melakukan Thawaf
Dari Al-Qur’an.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekililingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):”Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala. [Al-Mu’min:7]

“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.” [Al-Haaqah/69:17]

Dari As-Sunnah.
“Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Jabir bin Abdillah : Aku diizinkan untuk membicarakan seorang malaikat dari para malaikat Allah dari pemikul Al-Arsy, sungguh jarak antara daun telinganya sampai bahunya sepanjang perjalanan 700 tahun”. [31]

Dari sini jelaslah aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah tentang Al-Arsy dan ini merupakan pendapat salaf dalam hal itu.
_________

Foote Note:

[1]. Dalil-dalil Allah berada di atas langit: QS. Al-Mulk: 16-17, al-An’aam: 18, 61, an-Nahl: 50, al-Mu’min: 36-37 dan Faathir: 10.
[2]. Dalil-dalil tentang Istiwa’ Allah di atas ‘Arsy-Nya disebut di tujuh tempat: QS. Al-A’raaf: 54, Yunus: 3, ar-Ra’d: 2, Thaahaa: 5, al-Furqaan: 59, as-Sajdah: 4 dan al-Hadiid: 4.
[3]. Lihat Tafsiir Ibni Katsiir (II/246-247), cet. Daarus Salaam, th. 1413 H.
[4]. Lihat Syarhus Sunnah lil Imaam al-Baghawi (I/171), Mukhtasharul ‘Uluw lil Imaam adz-Dzahabi (hal. 141), cet. Al-Maktab al-Islami, tahqiq Syaikh al-Albani.
[5]. Lihat Mukhtashar al-‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghaffaar (hal. 137, no. 119) tahqiq Syaikh al-Albani dan Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 386-387) takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki.
[6] ( Shahih Al-Bukhari, kitab Al-Maghazy, no. 4351, Shahih Muslim, kitab Az-Zakah no. 144, 1064)
[7] Kumpulan Fatwa dan Risalah Syaikh Ibnu Utsaimin, Juz I, hal.132-133
[8]. Kitabul ain 1/291
[9]. Tahdzibul lughoh 1/413
[10]. Kitabul ain 1/ 291
[11]. Taajul Arusy 4/321
[12]. Ibid
[13]. Tahdzibul lughoh 1/414
[14]. Kitabulain 1/293
[15]. Lisanul arab 4/2882
[16]. Mukhtashor Shawaiqul Mursalah 1/17-18.
[17]. Al Asma wa Shifat hal. 497
[18]. Albidayah 1/12
[19]. Al Ulu hal. 57
[20]. Fathul Baary 13/405
[21]. HSR Attirmidzi dalam Jami’ Attirmidzi (sunan ) kitab Tafsir, bab surat Hud 5/288 hadits No. 3109, Ibnu Majah dalam sunannya Al Muqadimah bab fimaa Ankarat Aljahmiyah 1/63, Imam Ahmad dalam Musnadnya (4/11-12) Ibnu Abi Ashim, dalam As-Sunnah 1/271 dan Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah dalam kitabnya Al-Arsy hal.313-314. semuanya dari jalan periwayatan Hamad bin Salamah. Hadits ini dihasankan oleh Attirmidzi dan Adz-Dzahabi dan dilemahkan oleh Al-Albany dalam Mukhtashor Al Ulu hal. 186. dan berkata: dalam penshihihannya tidak benar, karena semuanya bertemu pada waki’ bin hads, dan ada yang mengatakan ‘ads, dan dia seorang majhul (tidak dikenal) yang tidak ada yang meriwayatkan darinya selain ya’la bin atha’ oleh karena itu dikatakan oleh penulis (yaitu Adz Dzahabi): tidak dikenal. Dan berkata di dalam kitab Dzilaalil Jannah 1/271: sanadnya lemah, waki’ bin ‘ads dan dikatakan Hads seorang yang majhul, tidak ada yang meriwayatkan darinya selain Ya’la bin Atha’ dan tidak juga beliau di tsiqahkan kecuali oleh Ibnu hibban.
[22]. HSR Bukhori dalam shohihnya kitab Tauhid bab wa kaana Arsyuhu Ala Alma’ lihat fathul Bari 13/404.
[23]. Hal. 282.
[24]. HSR Ibnu Abi Ashim dalam Assunnah 1/252
[25]. HSR Bukhori dalam shohihnya kitab Tauhid bab wa kaana Arsyuhu Ala Alma’ lihat fathul Bari 13/404.
[26]. Al-Fatawa 5/151.
[27]. Al-Ikhtilaaf fil lafadz hal. 240
[28]. Al-Bidayah 1/11-12
[29]. HSR Bukhori No. 2411, 3408, 6517 dan 6518 dan Muslim No. 2373
[30]. Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 366
[31]. Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunannya 5/96 No.4727, Alkhothib dalam tarikhnya 10/195 dan Albaihaqy dalam AlAsma wa Shifat hal. 397 dari hadits Ibnul Munkadir dari Jabir. Berkata Adz -Dzahabiy dalam kitabnya Al Ulu : sanadnya shohih dan berkata Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 4/414 :Sanadnya baik dan perawi-perawinya tsiqat semua.

Advertisements

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: